Dalam sebulan, jumlah kunjungan dapat mencapai sekitar 1.000 wisatawan. Efek berantai mulai terlihat. Aktivitas wisata tidak hanya menghidupkan operasional HIB, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari kapal, transportasi, hingga konsumsi masyarakat pesisir.
SAMARINDA – Di perairan Bontang, ancaman terhadap terumbu karang bukan sekadar isu lama. Praktik penangkapan ikan dengan cara destruktif, mulai dari bahan peledak, potasium, hingga alat tangkap yang merusak, masih menjadi persoalan nyata yang terus membayangi ekosistem laut.
Di tengah situasi itu, muncul pendekatan yang tidak biasa. Bukan dengan larangan, tetapi dengan menghadirkan manusia ke laut dalam jumlah besar secara sadar dan terorganisir. Healing in Bontang (HIB), penyedia jasa open trip bahari, menjadikan wisata bukan hanya sebagai aktivitas rekreasi, tetapi sebagai cara menjaga ruang yang selama ini rentan dieksploitasi.
Pendiri Healing in Bontang, Suryani Ino, mengatakan gagasan ini berangkat dari kegelisahan atas praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Provider wisata yang berbasis di Bontang itu didirikan pada tahun 2024 sebagai bentuk pendekatan baru dalam pengembangan wisata bahari berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Di Bontang itu terumbu karangnya sebenarnya masih bagus. Tapi kita juga menemukan masalah, masih ada praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (9/5/2026).
Ia menyoroti praktik seperti pengeboman ikan dan penggunaan bahan kimia yang berdampak langsung pada kerusakan ekosistem. “Kalau pengeboman terjadi, terumbu karang bisa hancur. Padahal itu sumber kehidupan ikan,” lanjutnya.
Sebagai pendiri komunitas Srikandi Konservatif, Ino menilai pendekatan berbasis larangan tidak cukup. Dari titik itu, lahir satu konsep sederhana namun strategis, yaitu meramaikan laut.
“Kalau laut ramai, aktivitas seperti itu otomatis berkurang. Karena ada pengawasan alami dari wisatawan,” lanjutnya.
Namun bagi Ino, meramaikan laut saja tidak cukup. Persoalan utamanya tetap pada ekonomi. “Kalau hanya dilarang tanpa solusi, mereka akan tetap kembali ke cara lama.”
Karena itu, Healing in Bontang (HIB) tidak berhenti pada wisata. Mereka masuk lebih jauh, mengubah pelaku di dalamnya.
Beberapa nahkoda kapal yang kini terlibat dalam operasional HIB merupakan mantan pelaku pengeboman ikan yang beralih profesi dan kini memperoleh penghasilan rutin dari sektor wisata.
Pendekatan ini secara langsung menyasar akar persoalan, yaitu kebutuhan ekonomi. Dengan memberikan alternatif penghasilan yang stabil, aktivitas berisiko tinggi perlahan ditinggalkan.
Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagi berdiri sebagai sektor tersendiri, tetapi menjadi alat intervensi sosial yang bekerja langsung di lapangan.
Model tersebut berkembang menjadi sistem pemberdayaan masyarakat pesisir. Saat ini, HIB melibatkan sekitar 25 anak muda sebagai tour guide serta sejumlah nelayan sebagai nahkoda dan penyedia kapal. Dalam kondisi ramai, aktivitas wisata mampu menggerakkan hingga enam kapal dengan lebih dari 100 wisatawan dalam satu hari.
Dalam sebulan, jumlah kunjungan dapat mencapai sekitar 1.000 wisatawan. Efek berantai mulai terlihat. Aktivitas wisata tidak hanya menghidupkan operasional HIB, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari kapal, transportasi, hingga konsumsi masyarakat pesisir.
Bahkan dalam beberapa kasus, pendapatan nahkoda kapal bisa mencapai di atas Rp10 juta per bulan, jauh di atas rata-rata upah minimum setempat. Dalam kondisi ramai, angka tersebut bisa meningkat signifikan.
Di sisi lain, HIB juga aktif membina anak-anak muda di kawasan pesisir, terutama di Bontang Kuala.
“Daripada mereka tidak punya aktivitas jelas, kami ajak mereka kerja, belajar skill seperti public speaking, berenang, sampai penggunaan drone,” ujar Ali.
Pariwisata dalam konteks ini mulai diposisikan sebagai alternatif karier, bukan sekadar pekerjaan sementara. Meski demikian, perjalanan HIB tidak dimulai dari skala besar. Pada tahap awal, seluruh operasional dijalankan sendiri oleh Ino.
“Awalnya aku nge-guide sendiri, maksimal bawa 10 orang. Semuanya benar-benar organik.”
Enam bulan pertama menjadi fase paling tidak stabil, penuh trial and error, termasuk dalam perekrutan tim dan sistem kerja.
Perubahan mulai terjadi sejak Desember 2024, ketika satu keputusan diambil, yaitu konsistensi. Trip tetap dijalankan setiap akhir pekan dan hari libur, bahkan saat jumlah peserta minim.
“Sekecil apa pun jumlah tamunya, trip tetap jalan,” tambahnya.
Secara bisnis, keputusan ini berisiko. Namun dalam jangka panjang, hal tersebut justru membangun kepercayaan pasar.
Co-founder HIB, Muhammad Ali Wafa, menyebut konsistensi sebagai fondasi utama pertumbuhan. “Kuncinya satu, kita konsisten. Trip tetap jalan, marketing tetap jalan.”
HIB juga mengembangkan sistem berbasis teknologi, termasuk penggunaan respons otomatis selama 24 jam untuk pelanggan.
Dalam beberapa kasus, wisatawan dapat melakukan pemesanan hingga pembayaran tanpa interaksi dengan admin manusia. Di tengah persaingan open trip, kecepatan respons menjadi faktor penentu.
Selain sistem, diferensiasi utama HIB terletak pada pelayanan. “Kami fokus banget ke pelayanan. Dari cara menyambut sampai komunikasi,” ungkapnya.
Pendekatan ini muncul sebagai respons terhadap praktik wisata sebelumnya yang dinilai kurang ramah. HIB menerapkan evaluasi rutin setelah setiap trip untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kami tidak marah-marah. Evaluasi itu untuk menaikkan kualitas manusia,” kata Ali.
Standar keselamatan juga diperketat. Seluruh wisatawan diwajibkan menggunakan pelampung dengan jumlah perlengkapan mencapai lebih dari 100 unit.
“Karena ini aktivitas laut, keselamatan itu wajib.”
Dalam kondisi cuaca tidak memungkinkan, perjalanan akan dijadwalkan ulang sebagai bentuk tanggung jawab terhadap wisatawan.
HIB juga menerapkan sistem operasional yang ketat terhadap wisatawan. Mulai dari briefing detail melalui grup, aturan keterlambatan, hingga tindakan tegas terhadap perilaku yang mengganggu.
Wisatawan yang terlambat dapat ditinggal, sementara perilaku yang merusak kenyamanan atau melanggar hukum akan ditindak, termasuk dimasukkan ke daftar hitam. Pendekatan ini menjaga kualitas pengalaman kolektif, bukan hanya individu.
Di luar aspek teknis, HIB menyisipkan edukasi dalam setiap perjalanan. Wisatawan diperkenalkan pada fungsi terumbu karang serta pentingnya menjaga ekosistem laut.
Sebagian pendapatan juga dialokasikan untuk kegiatan lingkungan, termasuk transplantasi terumbu karang.
“Harapannya, pariwisata tidak hanya menikmati, tapi juga memulihkan.”
Saat ini, HIB melayani rute utama seperti Pulau Segajah, Karang Pasilan, dan Pulau Beras Basah. Namun pengembangan tidak berhenti di situ. HIB mulai merancang diversifikasi layanan, termasuk family gathering, outbound, hingga wisata berbasis komunitas pesisir. Sejumlah klien korporasi seperti Pertamina dan Sucofindo tercatat pernah menggunakan layanan mereka.
Selain itu, rencana pengembangan juga mencakup pembukaan wisata sore di Kampung Malahing, serta eksplorasi destinasi baru di Bontang yang dinilai masih belum tergarap optimal.
“Kami tidak mau terlalu cepat ekspansi. Potensi di Bontang masih besar.”
Pengalaman sebelumnya membuka rute di luar daerah justru membuat fokus terpecah. Strategi yang dipilih kini adalah memperdalam, bukan memperluas.
Dinamika eksternal juga memengaruhi operasional mereka. Penataan Pulau Beras Basah, misalnya, sempat menurunkan minat wisatawan akibat isu pengelolaan yang viral. Namun setelah penertiban dilakukan, kepercayaan publik kembali meningkat.
Di sisi lain, kondisi fasilitas seperti di Karang Pasilan masih menjadi catatan. Struktur yang belum optimal membuat HIB memilih pendekatan berbeda, seperti tidak bersandar langsung pada fasilitas yang dinilai berisiko, serta memilih titik snorkeling yang lebih aman dan berkualitas.
Di tengah tarik-menarik antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan, HIB mencoba mengambil posisi yang tidak umum. Alih-alih menempatkan keduanya sebagai hal yang bertentangan, mereka justru menggabungkannya dalam satu model.
Laut dijaga, bukan hanya dengan larangan, tetapi dengan membuatnya tetap hidup, ramai, diawasi, dan memberi manfaat.
“Kami ingin pariwisata ini bisa jadi sumber penghasilan baru, sekaligus menjaga laut tetap hidup,” tutup Ino.
Model ini belum sepenuhnya sempurna. Namun satu hal mulai terlihat, perubahan perilaku tidak selalu datang dari aturan, tetapi dari alternatif yang lebih masuk akal secara ekonomi, dan itu sedang diuji di laut Bontang.
Penulis : Nuzul Saputra
Editor: Muhammad Rafi’i
Di tengah situasi itu, muncul pendekatan yang tidak biasa. Bukan dengan larangan, tetapi dengan menghadirkan manusia ke laut dalam jumlah besar secara sadar dan terorganisir. Healing in Bontang (HIB), penyedia jasa open trip bahari, menjadikan wisata bukan hanya sebagai aktivitas rekreasi, tetapi sebagai cara menjaga ruang yang selama ini rentan dieksploitasi.
Pendiri Healing in Bontang, Suryani Ino, mengatakan gagasan ini berangkat dari kegelisahan atas praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan. Provider wisata yang berbasis di Bontang itu didirikan pada tahun 2024 sebagai bentuk pendekatan baru dalam pengembangan wisata bahari berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Di Bontang itu terumbu karangnya sebenarnya masih bagus. Tapi kita juga menemukan masalah, masih ada praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Sabtu (9/5/2026).
Ia menyoroti praktik seperti pengeboman ikan dan penggunaan bahan kimia yang berdampak langsung pada kerusakan ekosistem. “Kalau pengeboman terjadi, terumbu karang bisa hancur. Padahal itu sumber kehidupan ikan,” lanjutnya.
Sebagai pendiri komunitas Srikandi Konservatif, Ino menilai pendekatan berbasis larangan tidak cukup. Dari titik itu, lahir satu konsep sederhana namun strategis, yaitu meramaikan laut.
“Kalau laut ramai, aktivitas seperti itu otomatis berkurang. Karena ada pengawasan alami dari wisatawan,” lanjutnya.
Namun bagi Ino, meramaikan laut saja tidak cukup. Persoalan utamanya tetap pada ekonomi. “Kalau hanya dilarang tanpa solusi, mereka akan tetap kembali ke cara lama.”
Karena itu, Healing in Bontang (HIB) tidak berhenti pada wisata. Mereka masuk lebih jauh, mengubah pelaku di dalamnya.
Beberapa nahkoda kapal yang kini terlibat dalam operasional HIB merupakan mantan pelaku pengeboman ikan yang beralih profesi dan kini memperoleh penghasilan rutin dari sektor wisata.
Pendekatan ini secara langsung menyasar akar persoalan, yaitu kebutuhan ekonomi. Dengan memberikan alternatif penghasilan yang stabil, aktivitas berisiko tinggi perlahan ditinggalkan.
Dalam konteks ini, pariwisata tidak lagi berdiri sebagai sektor tersendiri, tetapi menjadi alat intervensi sosial yang bekerja langsung di lapangan.
Model tersebut berkembang menjadi sistem pemberdayaan masyarakat pesisir. Saat ini, HIB melibatkan sekitar 25 anak muda sebagai tour guide serta sejumlah nelayan sebagai nahkoda dan penyedia kapal. Dalam kondisi ramai, aktivitas wisata mampu menggerakkan hingga enam kapal dengan lebih dari 100 wisatawan dalam satu hari.
Dalam sebulan, jumlah kunjungan dapat mencapai sekitar 1.000 wisatawan. Efek berantai mulai terlihat. Aktivitas wisata tidak hanya menghidupkan operasional HIB, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal, mulai dari kapal, transportasi, hingga konsumsi masyarakat pesisir.
Bahkan dalam beberapa kasus, pendapatan nahkoda kapal bisa mencapai di atas Rp10 juta per bulan, jauh di atas rata-rata upah minimum setempat. Dalam kondisi ramai, angka tersebut bisa meningkat signifikan.
Di sisi lain, HIB juga aktif membina anak-anak muda di kawasan pesisir, terutama di Bontang Kuala.
“Daripada mereka tidak punya aktivitas jelas, kami ajak mereka kerja, belajar skill seperti public speaking, berenang, sampai penggunaan drone,” ujar Ali.
Pariwisata dalam konteks ini mulai diposisikan sebagai alternatif karier, bukan sekadar pekerjaan sementara. Meski demikian, perjalanan HIB tidak dimulai dari skala besar. Pada tahap awal, seluruh operasional dijalankan sendiri oleh Ino.
“Awalnya aku nge-guide sendiri, maksimal bawa 10 orang. Semuanya benar-benar organik.”
Enam bulan pertama menjadi fase paling tidak stabil, penuh trial and error, termasuk dalam perekrutan tim dan sistem kerja.
Perubahan mulai terjadi sejak Desember 2024, ketika satu keputusan diambil, yaitu konsistensi. Trip tetap dijalankan setiap akhir pekan dan hari libur, bahkan saat jumlah peserta minim.
“Sekecil apa pun jumlah tamunya, trip tetap jalan,” tambahnya.
Secara bisnis, keputusan ini berisiko. Namun dalam jangka panjang, hal tersebut justru membangun kepercayaan pasar.
Co-founder HIB, Muhammad Ali Wafa, menyebut konsistensi sebagai fondasi utama pertumbuhan. “Kuncinya satu, kita konsisten. Trip tetap jalan, marketing tetap jalan.”
HIB juga mengembangkan sistem berbasis teknologi, termasuk penggunaan respons otomatis selama 24 jam untuk pelanggan.
Dalam beberapa kasus, wisatawan dapat melakukan pemesanan hingga pembayaran tanpa interaksi dengan admin manusia. Di tengah persaingan open trip, kecepatan respons menjadi faktor penentu.
Selain sistem, diferensiasi utama HIB terletak pada pelayanan. “Kami fokus banget ke pelayanan. Dari cara menyambut sampai komunikasi,” ungkapnya.
Pendekatan ini muncul sebagai respons terhadap praktik wisata sebelumnya yang dinilai kurang ramah. HIB menerapkan evaluasi rutin setelah setiap trip untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
“Kami tidak marah-marah. Evaluasi itu untuk menaikkan kualitas manusia,” kata Ali.
Standar keselamatan juga diperketat. Seluruh wisatawan diwajibkan menggunakan pelampung dengan jumlah perlengkapan mencapai lebih dari 100 unit.
“Karena ini aktivitas laut, keselamatan itu wajib.”
Dalam kondisi cuaca tidak memungkinkan, perjalanan akan dijadwalkan ulang sebagai bentuk tanggung jawab terhadap wisatawan.
HIB juga menerapkan sistem operasional yang ketat terhadap wisatawan. Mulai dari briefing detail melalui grup, aturan keterlambatan, hingga tindakan tegas terhadap perilaku yang mengganggu.
Wisatawan yang terlambat dapat ditinggal, sementara perilaku yang merusak kenyamanan atau melanggar hukum akan ditindak, termasuk dimasukkan ke daftar hitam. Pendekatan ini menjaga kualitas pengalaman kolektif, bukan hanya individu.
Di luar aspek teknis, HIB menyisipkan edukasi dalam setiap perjalanan. Wisatawan diperkenalkan pada fungsi terumbu karang serta pentingnya menjaga ekosistem laut.
Sebagian pendapatan juga dialokasikan untuk kegiatan lingkungan, termasuk transplantasi terumbu karang.
“Harapannya, pariwisata tidak hanya menikmati, tapi juga memulihkan.”
Saat ini, HIB melayani rute utama seperti Pulau Segajah, Karang Pasilan, dan Pulau Beras Basah. Namun pengembangan tidak berhenti di situ. HIB mulai merancang diversifikasi layanan, termasuk family gathering, outbound, hingga wisata berbasis komunitas pesisir. Sejumlah klien korporasi seperti Pertamina dan Sucofindo tercatat pernah menggunakan layanan mereka.
Selain itu, rencana pengembangan juga mencakup pembukaan wisata sore di Kampung Malahing, serta eksplorasi destinasi baru di Bontang yang dinilai masih belum tergarap optimal.
“Kami tidak mau terlalu cepat ekspansi. Potensi di Bontang masih besar.”
Pengalaman sebelumnya membuka rute di luar daerah justru membuat fokus terpecah. Strategi yang dipilih kini adalah memperdalam, bukan memperluas.
Dinamika eksternal juga memengaruhi operasional mereka. Penataan Pulau Beras Basah, misalnya, sempat menurunkan minat wisatawan akibat isu pengelolaan yang viral. Namun setelah penertiban dilakukan, kepercayaan publik kembali meningkat.
Di sisi lain, kondisi fasilitas seperti di Karang Pasilan masih menjadi catatan. Struktur yang belum optimal membuat HIB memilih pendekatan berbeda, seperti tidak bersandar langsung pada fasilitas yang dinilai berisiko, serta memilih titik snorkeling yang lebih aman dan berkualitas.
Di tengah tarik-menarik antara kebutuhan ekonomi dan perlindungan lingkungan, HIB mencoba mengambil posisi yang tidak umum. Alih-alih menempatkan keduanya sebagai hal yang bertentangan, mereka justru menggabungkannya dalam satu model.
Laut dijaga, bukan hanya dengan larangan, tetapi dengan membuatnya tetap hidup, ramai, diawasi, dan memberi manfaat.
“Kami ingin pariwisata ini bisa jadi sumber penghasilan baru, sekaligus menjaga laut tetap hidup,” tutup Ino.
Model ini belum sepenuhnya sempurna. Namun satu hal mulai terlihat, perubahan perilaku tidak selalu datang dari aturan, tetapi dari alternatif yang lebih masuk akal secara ekonomi, dan itu sedang diuji di laut Bontang.
Penulis : Nuzul Saputra
Editor: Muhammad Rafi’i
Pesan Sekarang